eh ada yang tau g asal mula kota cianjur??
nah kali ini http://chiebays.blogspot.com/ akan ngasih info nh tentang asal mula kota cianjur, pada penasaran...
ya udah langsung z simak di bawah ini wokeh?
nah kali ini http://chiebays.blogspot.com/ akan ngasih info nh tentang asal mula kota cianjur, pada penasaran...
ya udah langsung z simak di bawah ini wokeh?
Konon, di suatu daerah di Jawa Barat, sekitar daerah Cianjur,
hiduplah seorang lelaki yang kaya raya. Kekayaannya meliputi seluruh
sawah dan ladang yang ada di desanya. Penduduk hanya menjadi buruh tani
yang menggarap sawah dan ladang lelaki kaya tersebut. Sayang, dengan
kekayaannya, lelaki tersebut menjadi orang yang sangat susah menolong,
tidak mau memberi barang sedikitpun, sehingga warga sekelilingnya
memanggilnya dengan sebutan Pak Kikir. Sedemikian kikirnya, bahkan
terhadap anak lelakinya sekalipun.
Di luar sepengetahuan ayahnya, anak Pak Kikir yang berperangai baik hati sering menolong orang yang membutuhkan pertolongannya.
Salah satu kebiasaan di daerah tersebut adalah mengadakan pesta
syukuran, dengan harapan bahwa panen di musim berikutnya akan menjadi
lebih baik dari panen sebelumnya. Karena ketakutan semata, Pak Kikir
mengadakan pesta dengan mengundang para tetangganya. Tetangga Pak Kikir
yang diundang berharap akan mendapat jamuan makan dan minum yang
menyenangkan. Akan tetapi mereka hanya bisa mengelus dada manakala
jamuan yang disediakan Pak Kikir hanya ala kadarnya saja, dengan jumlah
yang tidak mencukupi sehingga banyak undangan yang tidak dapat menikmati
jamuan. Diantara mereka ada yang mengeluh,"Mengundang tamu datang ke
pesta, tapi jamuannya tidak mencukupi! sungguh kikir orang itu". Bahkan
ada yang mendoakan yang tidak baik kepada Pak Kikir karena kekikirannya
tersebut.
Di tengah-tengah pesta, datanglah seorang nenek tua
renta, yang langsung meminta sedekah kepada Pak Kikir. "Tuan, berilah
saya sedekah dari harta tuan yang berlimpah ini", kata sang nenek dengan
terbata-bata. Bukannya memberi, Pak Kikir malah menghardik nenek
tersebut dengan ucapan yang menyakitkan hati, bahkan mengusirnya.
Dengan menahan sakit hati yang sangat mendalam, nenek tersebut akhirnya
meninggalkan tempat pesta yang diadakan Pak Kikir. Sementara itu,
karena tidak tega menyaksikan kelakuan ayahnya, anak Pak Kikir mengambil
makanan dan membungkusnya. Kemudian dengan sembunyi-sembunyi dia
mengikuti si nenek tersebut hingga di ujung desa. Makanan tersebut
diserahkannya kepada sang nenek.
Mendapatkan makanan yang
sedemikian diharapkannya, sang nenekpun memakannya dengan lahap. Selesai
makan, dia mengucapkan terima kasih dan mendoakan anak Pak Kikir agar
menjadi orang yang hidup dengan kemuliaan. Kemudian dia melanjutkan
perjalanannya hingga tibalah di salahsatu bukit yang dekat dengan desa
tersebut.
